Jumat, 03 Maret 2017

Rhapsody Anak Amplaz

Rhapsody Anak Amplaz
by Suci Handayani

Ini tentang kita
Saat kita bersama menggurat niat
Ingin menjadi santri yang kelak bermanfaat
Tergerak hati untuk tutup aurat
Karena kita selalu dikenalkan pada akhirat.

Ini bukan tentang dia
Tapi tentang kamu dan aku saat menimba ilmu
Mengenal ilmu bahasa, shorof, khath, dan nahwu.

Kita eja kata perkata di pelajaran imla
Kita reka makna di bidang insya
Kita kerahkan memory menghafal mahfuzhat
Lewati siang dan malam mengingat surat-surat.

Ini bukan tentang mereka
Ini kisah nyata kita
Kita pernah tinggal ratusan hari di sebuah lembaga
Tempat menggali ilmu umum dan agama.

Ini mungkin catatan usang 
Namun rhapsody ini kan terus kita kenang
Bak ikatan yang kuat dalam benang
Shilaturrahim kita tak terhalang jarak dan ruang.

Ini rhapsody anak amplaz
Bertutur pendek tentang nostalgia senja
Rhapsody ini sekadar alarm singkat
Agar kita tak melangit jika lengah
Namun tetap membumi pada asal kau sekolah
Dimana kau pernah meraih asa dan hidayah.

Ciledug, disaat musim dingin.

Buku Iqra Bertutur

Buku Iqra Bertutur

By Suci Handayani

Lisankan alif berfatah, ba berfatah, ta berfatah dengan pasti
Tak semata kau membaca tulisan terkodifikasi
Karena kau sedang lewati titian mendaras berseni
Untuk mengaji ayat-ayat Allah yang mengandung definisi.

Kau eja a, ba, ta
Bukan sekadar kau membaca saja berkutat
Ada sepuluh kebajikan tercatat
Ditiap huruf pahala pun tersirat
Pahala itu hal yang sangat berarti
diakhirat.

Jangan terluka jika mu'allim mengingatkan
Itu pertanda ia memahamkan
Agar kelak bacaanmu mengagumkan

Tak usah terburu ingin menamatkan
Membaca cepat hingga aturan kau abaikan
Dimata Nya niat dan proses diperhatikan
Tak hanya hasil yang kau tampakkan.

Belajarlah untuk bersabar
Teruslah belajar
Seperti kau mengeja ta a ta, ba a ta, dan ta ba ta penuh semangat di juz dasar
Sungguh ejaan sederhanamu itu pasti berkadar.

Kehidupan ini penuh pola
Jangan puas dengan satu cara
Terus dan teruslah mencoba.
Biarlah mereka mengira kau perlahan-lahan meraba
Mengeja huruf per huruf terbata-bata

Kuatkan tekad mulia
Bahwa kau berlatih untuk Allah Ta'ala
Sang Pemilik taman kesenangan nyata.

Allah sayang benar pada hambaNya  yang mendekat
Ini adalah cara sederhana untuk ta'at
Sungguh Dia Maha Pemurah dan Maha Hebat
Dia menjanjikan kemenangan dan syafaat
Bagi hamba yang membaca kalamNya tanpa syarat.
.
.
.
.
.
.

#RumahIqraLaduny, 03 Maret 2017

Teriring alfatihah buat penyusun iqra KH. As'ad Humam...

Kembalilah Pada Allah

Kembalilah Pada Allah
By Suci Handayani

Maha Suci Allah yang sayang pada hamba-hambaNya.
Dia mengutus para nabi agar kita mengenal penciptanya.

Diantara kita ada yang bersyukur ada pula yg takabbur.
Para nabi diutus tanpa gaji. Hanya berharap umàtnya taat dan mengkaji.

Dia sampaikan tanda-tanda Allah yang kuasa.
Nikmatnya sèmpurna tak terkira.

Wahai orang-orang yg enggan menyembahNya.
Apa tak sampai padaMu seorang rasul yang mulia.
Yang mentauhidkan Tuhanmu Yang Satu Dialah Allah.
Yang meyakinkanmu bahwa Dia itu Ada untuk kau sembah.
Tempat bernaung dan tempat kembali segala arwah.

Namun jika sama sekali tak datang rasul di masa hidupmu.
Maka kau boleh terlepas dari siksa yang membelenggu.
Karena kau hidup di alam fatrah.
Tapi kini... kàu hidup dalam gelimang informasi dan globalisasi yang meriah.

Dimana kau tak buta tak pula tuli.
FirmanNya jelas selalu sampai padaMu
lewat media dan orang orang yang masih peduli.
Untuk mengajakmu taat dalam beribadat.

Wahai hamba Allah yang tercipta indah rupa dan akalnya sehat.
Kembalilah dan sungguh kembalilah padaNya.
Selagi dia masih membuatmu bernafas
Tak ada kata terlambat dalam bertaubat.
Karena ampunan Allah kan selalu tersedia untukmu yang taat dan bagi hambaNya yang mau mendirikan shalat.

Ciledug, 28 Feb 2017 jam 03.06 WIB (Waktu Indonesia Bertahajud)

Teruntuk Belahan Jiwaku

Teruntuk Belahan Jiwaku
By Suci Handayani

Pertemuan sesaat itu telah menjadi cinta
Mengalirkan cinta yang kokoh dari hati
Menuju sebuah ikatan
Hati kita kini satu

Hari demi hari merenda cinta dengan sederhana
Bermodal do'a dan isak tangis
Bermohon buah hati untuk temani hari tua kita
Dan resolusi itu berbuah sosok Laduny Adzkira Ramadhany
Ditengah penantian panjang itu
Dia mewarnai hidup kita
Mengukir keceriaan di hati kita
melukis tawa di tiap paginya
Menghibur kita dengan tangis dan panggilan manjanya
Cium dan peluk kita hujankan padanya
Menenggelamkan jiwa-jiwa kita yang pongah

Kehadirannya bagai nyanyian indah para pecinta
Seperti ayat-ayat cintaNya yang dibacakan pada para pesakit

Hari berganti
Resonansi alarm dariNya trus bergeletar
Tak menyadarkan kita bahwa lembaran cinta itu akan segera berganti halaman

Dari riang menjadi sunyi
Dari tawa menjadi tangis
Membawa pergi onggokan harapan dan serpihan kebahagiaan
Menuju lorong waktu yang tak terduga

Hanya kekuatan cinta kita kepadaNya
Yang membuat kita tak merasa hilang

Genggaman tangan kita meraih tanganNya erat
Memohon kekuatan dan kesabaran

Nyanyian cinta itu kini menjadi alunan ayat-ayat cinta
Bermetamorphosa menjadi dzikir-dzikir panjang

Terima kasih Allah... atas tanda cinta ini
Kami ridha dengan apa
Yang telah Engkau tulis dengan penuh cinta

Ciledug, 01 Maret 2017

Sabtu, 25 Februari 2017

Kusuka HujanMu

Kusuka HujanMu
By Suci Handayani

Aku suka pada HujanMu yang turun perlahan.
Diiringi angin berhembus pelan.
Seperti ada tanda cinta darimu wahai Tuhan.
Bahwa Kau pun rindu pada hambaMu yang beriman.

Kutahu ada cinta dalam Hujanmu.
Biar samar rindu itu tapi kutahu.
Lewat hujan Kau ungkapkan semua itu.
Besarnya rasa cintaMu pada hamba-hambaMu.

Kusentuh tetesan hujan dengan tangan kutadah.
Kutatap lekat dengan hati gundah.
Masihkah Engkau benar-benar tak marah?
Pada ku yang selalu berpolah salah.

Kuterlalu sibuk dengan dunia yang melenakan.
Tak pernah terpikir akhirat kurindukan.
Hanya ingin usia, anak dan harta Kau tambahkan.
Karena kutahu Engkau selalu mengabulkan.

Wahai Sang Pemberi hujan...
Kau berfirman bahwa arasyMu berada di atas air. Inikah rahmat yang berasal dari bawah arasy yg turun berbulir.
Biarkan kami bersyukur tanpa mangkir.
Meresapi nikmatMu yang terus mengalir.

Ciledug, 25 Februari 2017

Kamis, 23 Februari 2017

PUISI UNTUK SAHABAT

Deras air matamu mungkin tak seperti dulu.
Kau mulai membatasi rintik dan curahnya.
Seolah tak peduli dengan segala rasamu yang menderu.
Hanya tawakkal dan do'amu yang kau yakini adanya.

Kemaraukah kini hidupmu tak lagi seindah impianmu dulu.
Sisakan onak dan duri yang gundah.
Temani hati jalani minhaj hidupmu.
Walau harus korbankan bathin dan diri yang resah.

Kuharap kau di rumah berkutat taat.
Merajut asa dan menenun do'a - do'a malammu.
Dalam diam dan uzlah bermunajat.
Mengadu padaNya tentang cinta dan asamu.

Tangan hampaku hanya bisa berdo'a seperti lemahnya imanku yang hanya bisa interupsi tanpa arti.
Semoga kegetiran yang kau rasa terurai indah bersama terangnya matahari yang datang menghibur hari harimu.

Karena matahari tak pernah berputus asa sebelum ia sempurna menyinari

Rabu, 22 Februari 2017

TERUNTUK HUJAN YANG DULU AKU TUNGGU

Teruntuk Hujan Yang Dulu Aku Tunggu.   

By Suci Handayani

Saat itu aku begitu lugu mencoba menengadah ke langit mencari awan-awan hitam yang kuyakini itu hujan.

Pekat kulihat dan aku percaya akan harapan langit yang menghitamkan janjinya.

Kutandai awan-awan hitam yang terus berarak berat seolah Ingin menumpahkan isi perutnya ke bumi. Ayolah turun! Pintaku pada langit.

Tak dinyana matahari kembali terang, seolah awan meminta maaf padaku bahwa ia tak kini datang pada bumi. Mungkin dia akan menghujani bagian bumi, di benua yang berbeda.

Tak apa, semoga ada hujan lain kali yang akan turun deras disini. Dan benar saja Allah tak ingkari janjiNya.

Bahagialah bumi menerima rizki dari langit. Kini hujan turun lebih deras dan membahagiakan, ia menetes penuh cinta dalam diam.

Bahagialah bumi menerima curahan rizki dari langit.

Mereka bilang langit itu jauh dari bumi jaraknya.

Tapi hujan menjadi akad, akan dekatnya langit dari bumi jika ia ditakdirkan untuk bertemu.

Karya ini diadaptasi (karya tandingan) untuk catatan Kukira Hujan oleh Kurniawan Gunadi dalam buku Hujan Matahari (hal 85).